Sabtu, 17 November 2012

Filsafat Pendidikan Sebelum Abad Ke-20


I.   Pendahuluan

A.   Latar Belakang
Berbicara tentang pendidikan, maka kita membahas perkembangan peradaban manusia. Perkembangan pendidikan manusia akan berpengaruh terhadap dinamika sosial-budaya masyarakatnya. Sejalan dengan itu, pendidikan akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kebudayaan. Banyak pendapat para tokoh  pendidikan yang kemudian berdampak terhadap peradaban manusia. Tulisan ini akan mendeskripsikan pendapat tentang arti pentingnya pendidikan bagi manusia, serta sasaran pendidikan secara umum di Indonesia.
Dari masa perkembangan peradaban kuno sampai munculnya abad pencerahan (renaisance) di Eropa, bidang pendidikan mendapat tempat utama dan strategis dalam kehidupan pemerintahan. Tidak dapat dipungkiri kapan filsafat modern dimulai. Secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance  yang artinya lahir kembali. Dengan bergulirnya zaman dan terus abad berganti abad yang diisi dengan berbagai macam ragam filsafat sampai kepada abad ke-18 dan abad ke-20.

B. Tujuan
1.  Mengetahui apa itu filsafat pendidikan
2.  Mengetahui filsuf-filsuf pendidikan abad ke-20
3.  Mengetahui tujuan pendidikan








II.   Pembahasan


Para filsuf pendidikan lebih tertarik untuk menganalisa dan mengklarifikasi mengenai konsep dan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada pendidikan. Jauh sebelum adanya filsuf pendidikan professional, filsuf dan pendidikan berdiskusi mengenai pertanyaan seputar pendidikan. Bahwa apa maksud dan tujuan dari pendidikan? Siapa yang akan didik? Haruskah pendidik dibedakan berdasarkan kebutuhan alami atau kebiasaan? Dan apakah peran Negara dalam dunia edukasi?

2.1 Filsafat Pendidikan
Filsafat berusaha memahami realitas secara menyeluruh, dengan menjelaskannya secara umum dan sistematis. Begitu pula menurut Drs. Uyoh Sadulloh yang mengatakan bahwa filsafat pendidikan berusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam memilih tujuan dan kebijakan pendidikan.
Menurut Drijakara (dalam Uyoh Sadulloh), pendidikan secara prinsip adalah berlangsung dalam lingkungan keluarga. Pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Mereka bertanggung jawab untuk membantu, memanusiakan, membudayakan, dan menanamkan nilai-nilai terhadap anak-anaknya.

2.2 Realita Pendidikan Abad ke-20
Masyarakat saat ini harus menjawab pertanyaan, siapa yang harus didik. Perdebatan besar kami adalah mengenai bagaimana masing-masing anak harus dididik, dan hari ini debat dipanaskan. Banyak pendidik bersikeras bahwa semua anak harus memiliki pendidikan yang sama persis setidaknya sampai kelas dua belas. Lainnya, banyak tradisi Deweyan. Berpendapat bahwa pendidikan harus disesuaikan sedekat mungkin dengan minat dan kebutuhan masing-masing anak.
Perhatikan, misalnya masalah yang populer saat ini adalah sekolah pilihan yang menetapkan sebuah sistem voucher. Orang tua diberi voucher senilai jumlah yang telah ditentukan, katakanlah $ 5.000, untuk biaya di sekolah pilihan mereka. Kita kembali ke pertanyaan abadi, apakah semua anak harus menerima pendidikan yang sama, apakah orang tua harus memiliki beberapa kontrol atas pendidikan anak-anak mereka (berapa banyak), dan apakah hak untuk mengontrol pendidikan harus dibatasi untuk mereka yang mampu membayar untuk jenis pendidikan yang mereka inginkan.
Kita bisa melihat bagaimana analisis filosofis mungkin berguna dalam mengidentifikasi dan menjelaskan masalah dasar. Kita mungkin bisa memutuskan dengan uji empiris apakah orang tua yang menyediakan sendiri peluang tersebut lebih puas daripada mereka yang tanpa voucher. Kita bahkan mungkin dapat menilai apakah sekolah dengan banyak siswa bervoucher puas melakukan pekerjaan yang lebih baik pada langkah-langkah tertentu daripada yang mereka lakukan sebelum mereka menjadi sekolah voucher. Jika voucher menyebabkan bentuk Balkanisasi budaya masing-masing sekte dan subkultur reigningin komunitas sekolah sendiri ini hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan?
Ini adalah jenis pertanyaan yang menarik untuk filsuf pendidikan. Beberapa dari mereka telah ada sejak zaman Socrates. Anda harus bertanya pada diri Anda sendiri bagaimana pertanyaan abadi berubah sesuai dengan konteks di mana mereka diminta, bagaimana pertanyaan-pertanyaan lama mati pergi meninggalkan pertanyaan yang sama, dan bagaimana pertanyaan-pertanyaan baru yang dihasilkan oleh jawaban yang lama.
Filsafat pendidikan berusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkan dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam memilih tujuan dan kebijakan pendidikan. Dengan cara yang sama filsafat mengkoordinasikan hasil-hasil penemuan sains yang berlainan dan berbeda-beda, maka filsafat pendidikan menafsirkan enemuan-penemuan tersebut berkaitan dengan pendidikan.



2.3 Beberapa Ahli Filsafat Pendidikan
1.   Socrates
Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil bukan ajaran yang berdasarkan dogma melainkan fungsi yang hidup. Disini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sophis yang mengajarkan bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptic, Socrates berpendapat bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Dalam mencari kebenaran ia tidak memikir sendiri melainkan setiap kali ia berdua dengan orang lain dengan jalan tanya jawab dan metodenya disebut maieutik. Menguraikan seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak. Metode pembelajaran Socrates lebih dikenal dengan berpikir kritis. Namun diskusi yang tak memiliki akhir dan kesimpulan dan lebih cocok untuk pemecahan masalah. Manfaat metode ini adalah membuat orang selalu berpikir kritis.

2.   Plato
Pendidikan ditujukan kepada idelanya negara itu seperti apa. Jadi, pendidikan disesuaikan dengan tujuan negara. Seperti apa yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, yang tersirat bahwa negara Indonesia menginginkan kita cerdas dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Beliau setuju dengan aktualisasi diri. Orang yang telah beraktualisasi diri menurut Masslow yaitu orang yang telah berhasil memenuhi empat kebutuhan dan tidak bermaksud meminta pujian. Empat kebutuhan itu ialah kebutuhan dasar, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk memiliki atau mencintai, dan harga diri.


3.      Aristoteles
Aristoles setuju dengan pendapat gurunya, Plato bahwa manusia harus dididik dan dilatih agar ia berkembang sesuai dengan kondisi hidupnya. Filsafat sebagai refleksi dari pemikiran sistematis manusia atas realitas dan sekitarnya, tentunya tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan tempat yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut mempengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Oleh karenanya dalam sejarah pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja muncul dari zaman ke zaman dengan tema yang berbeda-beda.

4.      Rousseau
Rousseau berpendapat bahwa manusia mempunyai keadaan alamiah atau keadaan asli dalam dirinya sebagai suatu individu yang bebas atau merdeka tanpa adanya suatu intervensi atau paksaan dari manapun. meskipun mempunyai kebebasan yang mutlak, manusia tidak ingin atau memiliki keinginan untuk menaklukan sesamanya karena manusia alamiah bersifat tidak baik maupun tidak buruk. Mereka hanya mencintai dirinya sendiri secara spontan dan berusaha untuk menjaga keselamatan dirinya dan memuaskan keinginan manusiawinya. .
Menurut Rousseau, manusia abad pencerahan sudah mengubah dirinya menjadi manusia rasional. manusia rational hanya mementingkan factor material untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Faktor-faktor non-materail berupa perasaan dan emosi mengalami pengikisan yang berakibat manusia seolah-olah hanya bergerak menurut rasionya saja.
Abad Pencerahan menurut Rousseau adalah abad pesimisme total. Pemikir-pemikir pencerahan, perkembangan teknologi dan sains menyebabkan dekadensi moral dan budaya .Akibatnya, manusia menjadi rakus dan tamak sehingga terjadi kerusakan dan penghancuran besar-besaran bagi keberlangsungan manusia , baik itu alam maupun manusianya sendiri. Oleh sebab itu, Rousseau berpikir bahwa manusia seharusnya kembali pada kehidupannya yang alamiah yang memiliki emosi dan perasaan untuk mencegah dan terhindar dari kehancuran total. Pemikiran ini menjadi cikal bakal dari aliran Romantisme yang berkembang di Eropa .
5.   Pestalozzi
            Metode yang diangkat oleh Pestalozzi disebut Pestalozianisme yaitu metode yang coba mengangkat perbedaan individual dan menstimulasi aktivitas diri si anak. Metode ini dapat dicapai lewat kegiatan menggambar, menyanyi, latihan fisik dan berkelompok.Tujuan pendidikan menurut Pestalozzi adalah modern civilization. Khususnya pembebasan diri dari kekusutan persepsi diri, hal-hal yang tidak berguna, pengetahuan, ambisi untuk memperoleh kebahagiaan.

6.   Frobel
            Frobel adalah bapaknya Paud (kinder garten). Ia dipengaruhi oleh Rosseau, bahwa taman kanak-kanak itu diibaratkan taman tempat anak tumbuh dan berkembang. Frobel ingin anak-anak memegang objek, mengamati bentuk. Jadi anak terlibat aktif dalam proses belajar.

2.4 Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari filsafat atau pandangan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun kelompok. Tujuan pendidikan harus mengandung tiga nilai.
1.      Autonomy (berdikari)
Memberikan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum kepada individu maupun kelompok untuk dapat hidup mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.
2.      Equiti (keadilan)
Bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberinya pendidikan dasar yang sama.
3.      Survival (bertahan hidup)
Bahwa dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

2.5 Peran Negara dalam Dunia Pendidikan
Setiap warga negara di Indonesia berhak menikmati pendidikan agar kelak menjadi seorang manusia yang cerdas dan berguna untuk bangsanya. Sungguh sebuah cita-cita mulia yang dulu diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan kita dahulu.
Dari sini juga kita bisa mengerti mengapa para pejuang kemerdekaan kita menempatkan pendidikan sebagai suatu yang penting bagi suatu negara. Karena pendidikan memang merupakan cermin kualitas peradaban di suatu bangsa. Bahkan kini di lingkungan masyarakat pendidikan juga menjadi sebuah tolak ukur tentang kehidupan dan tingkah laku seseorang. Jika seseorang melakukan tindak kriminal seperti perampokan, pencurian dll, maka dengan mudah nya orang akan membuat anggapan bahwa orang yang melakukan tindakan kriminal itu tak memiliki pendidikan atau berpendidikan rendah. Meski anggapan ini tidak sepenuhnya benar, tapi kita tak bisa menafikan jika tingginya tingkatnya kriminalitas juga diikuti dengan rendahnya tingkat pendidikan yang diterima rakyat miskin.
Para pejuang kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka dan Ki Hajar Dewantara mungkin juga tak akan mengira jika cita-citanya menjadikan manusia Indonesia yang cerdas kini sangat sulit diwujudkan oleh penerusnya. Tak ada lagi sekolah-sekolah rakyat yang dulu dibuat oleh Tan Malaka dan Ki Hadjar Dewantara untuk warga pribumi yang miskin agar mampu mengakses pendidikan. Mungkin para pejuang revolusi kemerdekaan kita akan menangis jika melihat semua orang mencibir sekolah-sekolah murah yang dianggap tak memiliki kualitas. Karena pendidikan hanya diperuntukan untuk para orang yang mampu saja.



Daftar Pustaka

Sadulloh, Uyah. 2012. Pengantar Filsafat Pendidikan. Jakarta: Alfabeta
Nodding, Nel. 2012. Philosophy of Education. Colorado: Westviem Press
http://lmnd-jakarta.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar